Orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya

27
Jun

Ibadah Raya GBI Menorah, 27 Juni 2021

Tema : Orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya

Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia : “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya. Perkataan Tuhan yang digaris bawahi disini yaitu Sudah Selesai. Anda sementara mengalami persoalan dengan suamimu atau istrimu, mengapa tidak terinspirasi pada perkataan ini. Bukankah Tuhan sudah menyelesaikan semua masalah kita dikayu salib? Dia telah memikul semua sakit penyakit dan kesengsaraan kita dikayu salib ( Yes.53:4 )

Tetapi persoalannya bagi kita, apakah kita mau menerima dan menganggap semua persoalan kita sudah selesai? Sebab ada orang yang merasa sangat tersakiti dengan perlakuan suami atau isteri mereka, sehingga sulit menerima perkataan ini.
Memang banyak fakta yang tidak sesuai logika, sehingga menimbulkan persoalan yang mengusik hati yang dapat berpotensi menurunkan kadar iman kita. Namun apapun itu, Firman Tuhan mengingatkan bagi kita bahwa semua sudah selesai. Kita harus imani hal ini, Selesai itu artinya : Jalani masalahmu, urusanmu dengan Tuhan, sebab bagi Tuhan tak ada perkara yang mustahil. Sedangkan orang yang selesai dengan dirinya, adalah orang yang mau berubah dari hari kesehari menuju gambar Kristus.
2 Korintus 4 : 16, “Sebab itu kami tidak tawar hari, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari kesehari.”
Contoh : Tuhan Yesus. Didalam kemanusiaan-Nya Dia mengalami penderitaan yang sangat luar biasa, Dia didera, dipukul, dicambuk, dimahkotai duri, disalib tetapi Dia berkata”Sudah Selesai.” Penderitaan kita apakah seperti Tuhan Yesus, dipaku dikayu salib? Atau hanya terusik, tersinggung, terintimidasi dengan apa kata orang. Hanya karena gengsi. Dan demi gengsi engkau melakukan segala sesuatu tidak sesuai firman.
“Nanti orang mau bilang apa, jika rumahku disita, mobilku ditarik, usahaku bangkrut, aku dipecat dan sebagainya” persoalan kita hanya berputar-putar pada keingingan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Tetapi Yesus mengalami penderitaan yang hebat, Dia rela menyerahkan nyawa bagi kita. Dia mati bagi dosa-dosa kita. Dan bagaimana balasan kita! Masihkah kita mempertahankan ego kita, suka merajuk, hitung-hitungan dalam pelayanan?

Mari saudara, kita butuh Tuhan, butuh firmanNya untuk menjadi pelita yang akan menerangi dan menuntun langkah kita setiap hari. Yesus telah memberi contoh bagi kita, apakah kita juga sudah menjadi contoh dan menjadi saluran berkat bagi orang lain?
Kita tahu peristiwa Ester, bagaimana dia bisa menjadi ratu. Ada banyak kisah disitu, bagaimana Haman telah mempengaruhi raja Ahasyweros untuk memusnahkan orang Yahudi di benteng Susan.

Alkitab menceritakan tentang Mordekhai pama Ester datang ke pintu gerbang dengan kain kabung sehingga Ester menyuruh Hatah sida-sida raja yang melayani dia untuk memberitahu Mordekhai supaya tidak melakukan seperti itu. Tetapi Mordekhai kembali menyuruh Hatah memberitahu Ester semua maksud jahat dari Haman ( Ester 4:1-17 ) , kemudian Ester menyuruh memberitahu pada Mordekhai bahwa di benteng Susan berlaku Undang-undang jika menghadap raja dan tidak dipanggil hukumannya digantung atau hukuman mati sedang Ester sudah 30 hari tidak dipanggil raja. Lalu Mordekhai menyuruh Hatah kembali dan menyampaikan kepada Ester. “Jangan kira, karena engkau didalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu” (Ester 4:13-14)
Saudara, kelihatan cerita seperti ini cerita biasa saja. Tetapi kalau kita merenungkan dalam posisi seperti Ester yang akan menghadap raja. Apa yang terjadi ? Dialog antara Mordekhai dengan Ester melalui Hatah ini telah membangkitkan iman percaya dari Ester karena yang disampaikan oleh Mordekhai itu adalah firman.
Perenungan : Jangan anda berpikir anda dapat merubah suamimu, isterimu, anakmu, orangtuamu. Jika itu terjadi Tuhanlah yang memakai engkau jadi saluran berkat.
Karena hanya firman ini yang dapat mengubah orang lain. Hanya Yesus yang dapat mengubah kita. Alkitab menceritakan berbagai kisah bagaimana Bartimeus yang buta melihat, wanita yang sakit pendarahann sembuh, Zacheus dipulihkan. Ada cerita-cerita yang terjadi disana yang bisa dikhotbahkan, untuk apa? Untuk kepentingan kebutuhan umat Tuhan saat ini. Demikian pula dengan peristiwa Ester ini dapat menjadi contoh bagi kita, supaya disaat kita menghadapi tekanan atau masalah ada contoh-contoh hamba-hamba Tuhan di Alkitab memberi kita inspirasi supaya kita bangkit dan meraih janji-janji Tuhan. Asal kita mau hidup seturut firman Tuhan. 2 Kor 5:17, Siapa yang ada dalam Kristus dia adalah ciptaan yang baru, yang lama sudah berlalu sesungguhnya yang baru sudah datang. Perubahan dengan Tuhan itu bertahap ada proses yang harus kita jalani untuk menyingkirkan karakter lama kita. Membuang sifat egois, kesombongan, malas, tidak disiplin dan semua perbuatan kedagingan kita. Supaya Tuhan dapat mempercayakan sesuatu bagi kita, sehingga kita dapat menjadi saluran berkat bagi orang lain. Harus ada sesuatu yang kita lakukan untuk menarik perhatian Tuhan sehingga sorga tergerak untuk menjawab doa kita.
Ada banyak waktu tersita untuk hal-hal yang substansi, oleh karena itu kita kembali ke firman untuk hidup menjadi saluran berkat, sebab Tuhan memanggil kita untuk itu. Dialog dengan Mordekhai telah membangkitakan iman ratu Ester, dan ia menyuruh Hatah memberitahu pada Mordekhai untuk berpuasa 3 hari 3 malam, dia beserta dayang-dayangnya juga akan berpuasa. Sesudah itu aku akan menghadap raja, kalaupun aku harus mati biarlah aku mati. Orang yang hidup dengan Tuhan “Selesai” akan hal-hal seperti itu. Akibatnya : Ester 5:1-3, Ester mendapat perkenan dari raja, bahkan setengah kerajaanpun akan diberikan raja kepadanya. Ratu Ester melakukan firman.
Apakah kita mau jadi saluran berkat ? Harus selesai dulu dengan diri kita sendiri. Kalau firman ini tidak menetap dalam hidup kita, maka yang keluar adalah buah daging, iri hati, sombong, malas, tidak disiplin. Ini manusia lama harus disingkirkan, sesudah itu Alkitab mengatakan yang baru itu datang.
Contoh di Alkitab orang-orang yang selesai dengan dirinya :
– Paulus dan Silas, Kis.16:26-33
Mereka menjadi saluran berkat bagi kepala penjara dan seluruh keluarga orang itu bertobat dan diselamatkan.
– Yusuf, Kej.50:20
Tuhan memakai Yusuf untuk memelihara kehidupan suatu bangsa yang besar. Jadi untuk menjadi berkat harus berubah sesuai firman supaya dapat menjadi saluran berkat bagi orang lain.
Ester rela mati untuk jadi berkat bagi orang lain; Paulus dipenjara dan tidak membalas sehingga menjadi berkat. Kis.7:59-60,“Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku” sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring:” Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan dengan perkataan itu meninggallah ia” Ia selesai dengan dirinya. Ingat, doa Yesus dikayu salib. “Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
Orang yang selesai dengan dirinya yaitu orang yang mau berubah dari hari kesehari dari hal-hal negatif kearah yang positif menuju gambar Kristus sehingga akan tiba saatnya kita boleh berkata: “Sudah Selesai.”

Tuhan Yesus memberkati.Amin

Pdt Hanny Pantouw S.Th

error: Content is protected !!